Gerbang Amsterdam juga dikenal dengan beberapa nama, yaitu Gerbang Pinang atau Gerbang Kasteel (Benteng). Sebelum tahun 1950, gerbang ini berada dekat jalan kereta api di Jalan Tongkol.
muliya.id

Sisi selatan Kasteel van Batavia, tampak gerbang sederhana (seperti palang) cikal bakal gerbang Amsterdam. Lukisan Andries Beeckman, 1662, Rijksmuseum Amsterdam / Museum Sejarah Jakarta.
muliya.id
Sisa peninggalan Kasteel van Batavia
.

Gerbang Amsterdam ada di bekas benteng lama (huruf a).
Arah kiri sebagai utara dan arah kanan sebagai selatan.
Arsip Nasional Belanda, Den Haag.
Di sisi selatan Kasteel van Batavia (Benteng Batavia) yang dibangun pada abad ke-16, dibuat sebuah poort (gerbang, dalam Bahasa Belanda).
Pada 1629, benteng Batavia ini diperbesar. Letaknya pun ikut bergeser ke arah utara. Bekas benteng lama menjadi tanah lapang, dengan sebuah gerbang kecil di selatan benteng.
muliya.id
Gerbang yang Lebih Besar
.
Melihat lahan kosong bekas benteng lama, Gubernur Jenderal Gustaaf Wilem Baron van Imhoff (1743-1750) memerintahkan perbaikan gerbang. Saat itu, gerbang dibuat dengan gaya Rokoko bersama dua bangunan di kiri dan kanannya.
.

- Selengkapnya tentang gaya Rokoko
Gerbang itu kemudian dijadikan pintu utama di sisi selatan benteng yang baru. Jadi, semua orang yang masuk Batavia dari Pelabuhan Sunda Kelapa harus melewatinya. Makanya, orang banyak menyebutnya sebagai Kasteel Poort (gerbang benteng).
.

Tampak dua patung di sisi dekat pilar gerbang.
Lukisan Johannes Rach, 1775, Perpustakaan Nasional.
Di bagian kiri lukisan Johannes Rach di atas, terlihat Galgenveld (tempat tiang gantung, bahasa Belanda) yang dijaga ketat banyak tentara dan pasukan berkuda. Juga ada mevrouw (wanita Belanda) yang berpakaian gaya abad ke-18 dan dipayungi budak wanitanya, ikut menyaksikan eksekusi gantung dan penggal. Selain mevrouw, ada para meneer (pria Belanda) bertopi.
Di bagian kanan lukisan, ada beberapa budak dengan kaki dirantai sedang menarik sebuah tong. Mereka diawasi dua tentara VOC dengan pedang.
.

Tampak sungai melintas di depan gerbang.
Lukisan Johannes Rach, 1775, Perpustakaan Nasional.
muliya.id
Saksi Bisu
.
Pada abad ke-18 sebelum stadhuis (balai kota, bahasa Belanda) dibangun, gerbang ini pun menjadi saksi bisu pelaksanaan hukuman mati, baik berupa digantung atau dipenggal. Mulai dari penjahat sampai budak belian yang melakukan kejahatan atas laporan majikannya. Para algojo bukan orang Belanda, tetapi orang setempat.
Hukuman yang ada hampir tiap bulan itu pun menjadi tontonan masyarakat semua kalangan. Menariknya, tak sedikit pedagang menggelar dagangannya saat eksekusi dilakukan.
.

muliya.id
Mempertahankan Gerbang
.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), dilakukan penghancuran benteng Batavia, termasuk Kasteel Poort. Konon, bahan bangunan dari benteng tersebut digunakan untuk membangun istana Daendels (sekarang gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat). Namun sebagian bangunan Kasteel Poort disisakan dan dipugar pada tahun 1830-an.
Saat pemugaran, terdapat pemasangan patung Mars dan Minerva di dekat pilar, serta penambahan bangunan sayap. Arah sayap kemungkinan diubah ke selatan agar terlihat cantik dipandang dari stadhuis.

Kami belum menemukan acuan tentang keberadaan delapan kendi yang menghias bagian atas gerbang. Kami menduga itu adalah sisa dari bangunan terdahulu.
.

muliya.id
Patung Mars dan Minerva
.

Di lukisan Johannes Rach tahun 1775 terlihat patung di kiri dan kanan gerbang. Tetapi belum dapat dipastikan patung yang terpasang adalah Mars dan Minerva.
Tetapi berdasarkan catatan, patung Mars (dewa perang Romawi) dan Minerva (dewi kesenian Yunani) di kedua sisi gerbang ditambahkan saat pemugaran tahun 1830-an.

muliya.id
Gerbang Amsterdam
.
Sejak Kasteel Batavia dihancurkan pada 1830-an, gerbang ini masih disebut gerbang benteng. Mungkin namanya dianggap sudah tidak relevan. Akhirnya gerbang ini mendapat nama baru Amsterdamsche Poort (gerbang Amsterdam).
Nama ini mungkin terinspirasi dari Amsterdamsche Poort di Harleem, Belanda yang dibangun pada 1355.
Kami belum mendapat acuan mulai kapan nama ini diresmikan. Namun pada peta-peta Batavia di abad ke-19, namanya sudah berubah tidak lagi Kasteel Poort.
muliya.id
Mengalah
.

Scott Merrillees dalam bukunya Batavia in Nineteenth Century Photographs menuliskan bahwa penghancuran gerbang pelan-pelan terjadi sekitar 1869 saat trem beroperasi di Batavia. Karena Gerbang Amsterdam tidak bisa dilalui trem, sisi-sisi sayap gerbang pun dihancurkan.
Rute trem saat itu dari Kanaal Weg (Jalan Tongkol) hingga ke Prinsenstraat (Jalan Cengkeh), Nieuwpoort Straat (Jalan Pintu Besar Utara dan Jalan Pintu Besar Selatan) hingga ke Molenvliet (Jalan Gajah Mada).
muliya.id
Dari Masa ke Masa
.
Pilih gambar untuk memperbesar.















muliya.id
.

muliya.id
Gerbang Pinang
.
Tidak diketahui sejak kapan namanya menjadi Pinang Poort (gerbang pinang). Diduga pohon pinang yang tumbuh di sekitar gerbang menjadi asal namanya.
Ini hanya pendapat. Kami belum mendapat keterangan maupun acuan lebih rinci dari nama Pinang Poort. Tetapi kami menemukan nama Penang Gate (kolom B baris 1, dekat angka 1) pada peta Batavia berbahasa Inggris tahun 1920.
.

muliya.id
Entah Ke Mana
.
Ketika Jepang tiba pada tahun 1942, gerbang ini sebenarnya dalam posisi aman. Tidak hancur atau dirusak. Tetapi, sepertinya patung Mars dan Minerva tidak lagi ditemukan, entah ke mana perginya.
.
Pilih gambar untuk memperbesar.



muliya.id
Menghapus Kelam
.
Jumat pagi, 15 Desember 1950. Beberapa pekerja pembawa palu tiba di Jalan Cengkeh dan mulai merobohkan gerbang Amsterdam. Gerbang yang kokoh berdiri sejak abad ke-18 dan menjadi bagian Kasteel Batavia, telah memasuki akhir waktunya.
Pemerintah Kotapraja Djakarta melakukan perobohan gerbang karena dianggap menghalangi lalu lintas yang semakin ramai. Perobohan memakan waktu hingga satu tahun karena kuatnya bangunan. Terlepas dari alasan lalu lintas, perobohan ini juga untuk menghapus kenangan buruk masa kelam bangsa.
.

Seandainya bertahan hingga 1970-an, mungkin Gubernur Jakarta Ali Sadikin, yang melestarikan cagar budaya di seluruh Jakarta, akan mempertahankan gerbang ini dan membangun jalan di sampingnya. Juga menjadikan salah satu tujuan wisata di Kota Tua.
Tapi karena ini untuk menghapus sejarah kelam bangsa, kami juga tidak berharap ini dibangun lagi.
Kini gerbang Amsterdam sudah tidak terlihat lagi. Namun kita masih bisa rasakan suasana di tempatnya pernah berada.
.
.
.
muliya.id
Acuan Lainnya
.
- Republika Online: Gerbang Amsterdam, Saksi Bisu Hukuman Mati di Batavia
- Intisari Online: Plesiran Tempo Doeloe, Jelajah Gerbang Amsterdam untuk Merawat Memori Kota Batavia
- Lost Jakarta Publishers: Demolition Amsterdam Gate 1950
muliya.id
Punya foto lama, keterangan, atau bahkan kisah kenangan dengan gerbang ini? Mari kita bahas.

Tinggalkan Balasan