Benteng Angke

Benteng Angke

Benteng pertahanan kokoh pada masanya di sisi barat Batavia.

Letak Benteng

Letak benteng dikabarkan berada satu jam perjalanan ke arah barat dari pusat kota Batavia. Persisnya berada di percabangan kali Angke dengan saluran Bacharachtsgracht.

Berdasarkan tampilan peta tahun 1740, benteng ini merupakan pertahanan kota yang paling barat. Juga, di deretannya sebelah utara terdapat benteng Buitenwacht.

Letak Benteng Angke, di sisi barat Batavia (kanan). Arah peta selatan di atas dan utara di bawah.
Sebagai perbandingan letak yang sama dengan peta 2024, sisi atas adalah utara dan sisi bawah adalah selatan.

Pembangunan Benteng

Menurut Ensiklopedia Jakarta, Benteng Angke didirikan tahun 1657 di tepi kali Angke. Dalam peta-peta lama, nama benteng ini sering tertulis Anké, Anckee, Anke, dan Ankee, ragam ucapan Eropa untuk Angke.

Tujuan VOC membangun benteng ini sebagai pos penjagaan pertahanan di arah barat kota Batavia, setelah pasukan Banten menyerang VOC. Benteng ini dibangun bersamaan dengan Benteng Zevenhoek dan Noordwijk.

Bangunan awal Benteng Angke berupa gundukan tanah. Setahun kemudian, surveyor Johannes Listing merancang pembangunan kembali benteng berbentuk heptagonal (segi tujuh) terbuat dari batu bata. Listing juga menggeser benteng ke tengah pertemuan Bacharachtsgracht dan Sungai Angke.

Sebanyak 25 pekerja terlibat dalam pengerjaan benteng ini. Dari kejauhan, benteng seolah berdiri di sebuah pulau yang dapat diakses lewat jembatan sempit. Untuk memberikan keamanan yang tinggi, sebuah sungai dibuat di sisi timur benteng Angke. Pembuatan benteng yang dikelilingi sungai seperti hal lumrah zaman itu yang konon dapat menghambat serangan pasukan setempat.

Tahun 1676 Fort Angke diperbesar menjadi satu dari empat benteng di dalam kompleks perbentengan berbentuk pentagon. Ada ruang komandan, pos jaga, dan barak prajurit.

Bentuk Benteng

Benteng Angke memiliki empat bastion segi lima pada empat sudutnya dengan dua pintu masuk. Pintu masuk barat dikenal dengan waterpoort, karena harus menyeberangi sungai untuk memasukinya. Sementara itu, pintu masuk timur yang dikenal dengan landpoort dapat dilalui dengan menyeberangi jembatan yang tegak lurus dengan pintu benteng.

Pada gambar denah terlihat pada setiap bastion terdapat tangga, sedangkan di dalam benteng terdapat sejumlah bangunan seperti rumah tinggal komandan (Commandants Wooning), rumah jaga militer dan menara pengintai.

Bangunan menara berbentuk segi tujuh dengan atap seperti kerucut. Bangunan tempat tinggal komandan merupakan bangunan yang paling besar (luas). Pintu masuk di sisi barat, terdiri atas sejumlah ruangan yang berukuran besar/kecil yang tentunya memiliki fungsi masing-masing.

Denah Benteng Angke
Peta Lokasi pernah Benteng Angke tahun 2024

VOC memanfaatkan Angke untuk memukimkan serdadu asal Bali dan kawasan timur Indonesia, seperti Ambon, Makassar, Bugis, dan Bone.

Hendrik E. Niemeijer, dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad ke XVII, menerangkan sejumlah serdadu Bali pernah bertugas di daerah ini dipimpin seorang kapten bernama Gusti Badoeloe (Bedulu). Setelah pensiun, Gusti Badoeloe dimukimkan di sebuah tanah di kawasan Masjid Angke bernama Kampung Gusti. Pemukim lainnya, dengan status penyewa, adalah sebagian kecil orang Tionghoa.

Nama Kampung Gusti kini diabadikan menjadi nama jalan dekat bekas Benteng Angke. Padahal dahulu, wilayahnya cukup luas meliputi Kelurahan Angke hingga daerah Jelambar sisi selatan Bacharachtsgracht.

Benteng Dihancurkan

Benteng itu dihancurkan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels tahun 1809. Tidak ada yang tersisa. Jika ingin tahu lokasi benteng itu saat ini, cari saja titik pertemuan Sungai Angke dan Kali Angke (Bacharachtsgracht).

Punya keterangan lain tentang Benteng Angke? Mari kita bahas!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *