Sabar

Menahan diri dari kesia-siaan.

Dunia itu ramai. Hiruk pikuk, cerita ini itu, bahkan arus berita dan iklan meninju pikiran setiap hari. Dunia berputar, hal-hal baru muncul tiap waktu tanpa henti. Apalagi jika setiap orang seperti merasa selalu ingin tampil. Makin banyak hal-hal seru yang dapat diikuti dan dikejar. Mungkin manusia tidak pernah tidur jika menuruti itu semua.

Perlukah saya melakukan itu?

Jika perlu, apakah makin terasa ikatan yang kuat antara saya dengan gawai (telepon pintar, komputer, tablet) atau televisi? Sudah berapa banyak waktu terbuang sia-sia? Seberapa sering pikiran buruk kini muncul di kepala saya?

Jika tidak perlu, apakah waktu tidur saya tidak teratur? Makan saya tidak teratur? Olahraga saya tidak teratur? Belajar saya tidak teratur?

Siang dan malam silih berganti, sebuah tanda alam untuk mengingat batasan. Malam itu waktunya istirahat, tidur. Siang itu waktunya makan, belajar, dan berkarya. Tubuh saya sejatinya mengikuti daur hidup itu. Sayangnya, saya masih cukup mudah dialihkan perhatiannya dan daur hidup pun menjadi rusak.

Hingga akhirnya kita menyadari waktu terbuang sia-sia.

Cara Mengatasi

Jeda sejenak. Ambil napas dalam-dalam dan lepaskan. Atur ulang daur hidup kita.

Waktu yang berlalu tetaplah berlalu. Selalu ada waktu ke depan untuk perbaiki diri. Pilah kembali mana yang perlu dan tidak perlu. Atur waktu untuk hal-hal yang benar-benar perlu. Mulai kurangi yang tidak perlu. Latih pikiran kita untuk memilah setiap hal bermanfaat atau berakhir sia-sia.

Jika saya dikit-dikit marah, pikirkan lagi apakah marah itu bermanfaat atau berakhir sia-sia. Jika saya senang belanja, pikirkan kembali sejauh mana manfaat benda yang akan dibeli atau malah nanti berakhir sia-sia. Jika saya berbuat keburukan, ingatlah dampaknya.

Mulailah membiasakan pikiran dan hati untuk:

  • Tidak lagi melakukan hal yang berakhir sia-sia, seperti (sebut saja).
  • Mengurangi waktu untuk melakukan hal yang berakhir sia-sia, seperti (sebut saja).
  • Menyelesaikan hal-hal yang perlu dengan cara yang baik.
  • Memperbaiki kegiatan atau hubungan yang sebenarnya bermanfaat.
  • Tingkatkan kesabaran dan berdoa jika dalam keadaan yang tidak baik.
  • Pilah dan pusatkan perhatian pada hal yang benar-benar bermanfaat, seperti kesehatan, keilmuan, dan kebaikan.

Bersabar untuk hadapi rasa takut dan cemas dengan ilmu. Bersabar untuk tidak terburu-buru. Bersabar saat amarah mulai naik dengan senyum. Bersabar saat menghadapi iklan dan potongan harga dengan ketelitian. Bersabar saat pikiran buruk mulai muncul dengan melihat sisi baik dan jalan keluar. Bersabar saat mulai memegang gawai atau menonton televisi dengan keinginan kuat untuk terbebas dari ketergantungan.

Mulailah membiasakan sabar dan menahan diri. Setelah sebulan, rasakan peningkatan ketenangan dalam hati.

Sabar itu nggak ada batasnya, kalau ada batasnya berarti nggak sabar.

Abdurrahman Wahid

Apa pun yang dimulai dari kemarahan akan berakhir memalukan.

Benjamin Franklin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *